04 Mei, 2019

Pelatihan Virtual Coordinator Training (VCT) SMK Negeri 1 Cugenang


Oleh Siti Halimah 



Pelatihan VCT SMK Negeri 1 Cugenang


Literasi digital adalah pemanfaatan teknologi untuk menemukan, menggunakan dan menyebarluaskan informasi dalam dunia digital. -Deakin University’s Graduate Learning Outcome 3 (DU GLO3),

Untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 dibidang teknologi, perlu dikembangkan keterampilan guru dalam mengajar yg menarik, kreatif dan efektif guna meningkatkan keterampilan sebelum menghadapi siswa.

Pada kesempatan tersebut SMKN negeri 1 Cugenang mengadakan pelatihan selama tiga hari (Kamis-Sabtu, 4-6 April 2019) dengan agenda tanggal Kamis dan  Jumat (4 dan 5 April 2019)  pertemuan tatap muka, kemudian pada hari Sabtu  06 April 2019 diadakan penutupan secara virtual menggunakan webex sebagai media untuk berkomunikasi.

Banyak yang kami dapatkan selama pelatihan berlangsung. Berikut adalah beberapa materi yang dismapiakan. (1) pelatihan perngenal webex sebagia media berkomunikasi secara virtual,diantaanya belajara membuat jadwal pertemuan, kemudian menjadi presenter (pemateri), menjadi moderator dan menjadi host. (2) Pembuatan google formulir yang digunakan sebagia presensi (daftar hadir) online dalam kegiatan pertemuan secara virtual (3) simulasi menggunakan webex (4) pembuatan akun youtube sebagia salah satu media komunikas (5) Pembuatan google drive sebagai media penyimpan secara digital.


Dari kegiatan tersebut diharapkan guru semakin melek digital (metal), keterampilan semakin meningkat dan tidak akan tergerus oleh zaman.


Sastra dan Laut: Begitu Dekat.

Ujung Genteng

Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide.-Plato



Berangkat dari pernyataan plato setiap orang mempunyai pendangan yang berbeda dengan sastra. Bagi Saya sastra itu dekat, namun jarak  ke laut cukup jauh dari tempat Saya tinggal.  Sejauh apapun, tapi kejujuran didapatkan ketika sastra ditemukan di laut.  Karena se-imajinasi apapun sastra berangkat dari kenyataan.  Pertama, Silahkan bayangkan ketika di laut Anda sedang rindu. berikut adalah kutipan yang didapatkan. 



/I
Sedari kemarin, dua tahun lalu ketika rindu enggan mengigau
Tak terbendu—akhirnya temu menjadi nyata malam ini
Malam dengan ombak;
Dengan kesaksian mendalam tentang cita yang dulu tiada.
Rindu gemuruhmu selalu terhalang jarak
Butuh waktu untuk sabar menjumpa
Kini sebagian kata yang kudapat dari gemuruhmu
Akan menjadi awal untuk menggerakkan penaku lebih lama dan lebih sering
Entah karena lama kita tidak bersua hingga malas kian mendua
Dan malam yang gemuruh dengan ombak ini—akan kusimpan.
Lantas malam kapan lagi kita berjumpa setelah ini?
Setelah pagi nanti adalah terakhir untuk kita saling menyapa.

....


dan setelah itu rindu akan mejadi rangkaian kata yang berbeda,itu yang aku temukan. Kedua rasakah luka. atau renungkan, kehidupan ini adalah kutipan yang didapatkan.


Di tepi, kau mengingatkanku tentang kehidupan setelah mati—kadang aku lupa untuk mengerti
Dan kiniaku yang ingin mengingatkanmu tentang lupaku.
"Aku ingin kau terus mengingatkanku untuk tidak lupa: tentang mati dan kehidupan setelah mati".
Lalu, kutuliskan sajak ini sebagai kado akhir tahun di hari lahirmu. 


dan silahkan tuliskan apa yang anda lihat dan  rasakan. jangan dipikirakan. tulislah,.


Sebenanya tidak hanya dilaut. lihat dan rasakan apapun yang ada didekat. Anda lalu tuliskan,maka Anda akan menemukan sastra;begitu dekat! 



Selamat menulis ...!!!

















03 Mei, 2019

KAJIAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER


Oleh Siti Halimah  
Novel Gadis Pantai 

Nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
Nilai-nilai Pendidikan Karakter  yang terdapat dalam novel Gadis Pantai karya Promoedya Ananta Toer, yaitu religius, jujur, toleransi, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, tanggung jawab.
Berikut adalah deskripsi tentang nilai pendidikan karakter yang telah disebutkan di atas. 
Religius
Dalam Novel Gadis Pantai banyak ditemukan nilai-nilai religius yang dibentuk dalam sebuah alur cerita yang menarik sehingga membuat pembaca juga ikut merasakan keadaan yang dialami oleh tokoh Gadis Pantai tersebut. Contoh: pada kalimat “Ya, Allah lindungilah seluruh kampung kami.” Dalam kalimat ini terlihat sisi religinya Gadis Pantai yang memohon lindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kampungnya selalu dilindungi dan selamat dari berbagai keadaan yang menimpa kampungnya tersebut.    
Jujur
Nilai-nilai kejujuran yang diterapkan dalam sebuah alur novel juga sangat kental dalam novel Gadis Pantai ini banyak diterapkan nilai-nilai karakter jujur yang dialami Gadis Pantai terutama nilai-nilai kepolosan dan kekanak-kanakannya seorang Gadis Pantai ini. Dalam nilai kejujuran Gadis Pantai adalah orang yang sangat baik serta sangat menyayangi kedua orangtuanya terutama jasa-jasa ayahnya yang telah membesarkan dirinya dengan penuh perjuangan dan tantangan kehidupan yang dialaminya selama menjadi seorang nelayan yang nyawa selalu jadi taruhan dalam mencari tangkapannya. Contoh: pada kalimat “Ah, bapak dekatlah sini.” “Biarlah, aku disini saja.”Gadis Pantai melangkah ke pintu menghampiri bapak. Dan bapak meninggalkan bandul pintu menyingkir keluar.“Aku ingin seperti dulu lagi, bapak, seperti dulu. Orang tak perhatikan aku.” “Tak ada yang perhatikan.” Pada kalimat ini Gadis Pantai sangat menggambarkan nilai jujur dan polos serta sayang terhadap bapaknya yang tidak ingin jauh dengannya.
Toleransi
           Toleransi  yang ada dalam kehidupan juga ada dalam novel Gadis Pantai ini yang mana toleransi yang ditampilkan adalah ketika bendoro terbaring disamping Gadis Pantadan memeluknya, ia merasakan apa yang dirasakan sehingga air mata yang hangat membahasahi wajahnya.
Kerja Keras
Gadis Pantai menggambarkan nilai-nilai kerja kerasnya seorang perempuan dalam menjalani kehidupan terutama dalam ruang lingkup keadaan yang berbeda sebelumnya dengan keadaan dia di masa kecilnya. Contoh: pada kalimat “Pengabdian ini tak boleh cacat, tak boleh merosot dalam penglihatan dan perasaan Bendoro. Bicara tentang saudara-saudara dan orangtua ia tak mau, biar tidak merusak kewajiban pengabdian yang kokoh.” Dalam kalimat ini terlihat bahwa seorang perempuan yang begitu kerja keras dengan ingin selalu mengabdi sepenuh hati terhadap suami yang ia nikahi.
Kreatif
Dalam novel tersebut dijelaskan bahwa Waktu sedang tegang-tegangnya suasana, nampak sekali bapak sedang keras berpikir. Kemudian ia membisikkan sesuatu pada seseorang. Lama betul bapak berbisik. Sesudah itu orang itu pun lari keluar rumah, tak kembali lagi. Ah, sebodoh-bodohnya orang kampung, dalam kepepet akal mereka selalu jalan
Mandiri
Dalam novel kini ia harus lebih banyak berpikir sendiri, mengambil keputusan sendiri, bertindak sendiri. Dari penggalan di atas jelas bahwa Gadis pantai adalah sosok yang mandiri tidak bergantung kepada orang lain.
Dalam Novel Gadis Pantai ini karakter dari tokoh utama juga menggambarkan nilai-nilai mandiri dalam menjalani kehidupannya dan ini terlihat pada kalimat “Jantung Gadis Pantai menggigil kencang. Kini aku harus berhadapan sendiri dengan dia. Dia! Dia yang terbitkan rangkaian bencana atas kampung kami.” Dalam kalimat ini Gadis Pantai ingin melakukan hal yang dapat melindungi kampungnya secara mandiri tanpa harus meminta dan berharap pada pertolongan orang lain, ia merasa dia mampu menjaga dan melindungi kampungnya secara mandiri.
Demokratis
Dalam beberapa minggu ini setapak demi setapak ia dipimpin untuk mengerti, bahwa satu-satunya yang ia boleh dan harus kerjakan ialah mengabdi pada Bendoro, dan Bendoro itu tak lain dari suaminya sendiri.
Rasa Ingin Tahu
Gadis Pantai adalah seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi terbukti dengan cerita-cerita yang dialami dalam perjalanan hidupnya yang mengharuskan dia untuk banyak bertanya kepada para pembantunya mengenai seluk beluk keadaan lingkungan suaminya serta rumah dengan berbagai fasilitasnya yang ia tempati.
Semangat Kebangsaan
             Dalam semangat kebangsaan ini tentu jelas ide cerita yang dijlaskan bahwa beberapa tokoh memiliki semangat untuk mmepertahankan kampungnya, yang mana kampung juga salah satu wilayah bangsa.
Cinta Tanah Air
novel gadis pantai menggambarkan cinta terhadap tanah air.  Sebagai contoh yan dikatakan Gadis PantaiAku akan tahu, tanah ini tempat aku injak setelah ditolong perahu nelayan kampung sini, dibawa ke sini, dipelihara di sini, dan diantarkan ke kota
Bersahabat/komunikatif
Nilai karakter Gadis Pantai juga sangat menarik dalam hal mencintai tanah airnya. Dalam hal ini Gadis Pantai sangat peduli terhadap tanah kelahirannya dan ia begitu mencintai tanah kelahirannya terutama area yang membesarkannya area pantai. Contoh: pada kalimat “Barangsiapa pernah minum air setengah asin kampung ini, dia takkan bakal lupa. Dan barangsiapa dilahirkan di kampung sini, dia tetap anak kampung sini.” Dalam kalimat sangatlah terlihat jelas bahwa Gadis Pantai sangat mencintai kampungnya terutama kampung dalam area pantai.
Cinta Damai
Diceritakan dalam novel bahwa di sebuah ia mengenangkan kembali segala kejadian sesiang tadi, kampung nelayan tiba-tiba jadi hidup lagi, dan secara tidak langsung tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Gemar Membaca
Diceritakan dalam novel bahwa di sebuah ruangan terdapat buku-buku berdiri dengan ketebalannya masaing-masing, dan ia membukanya meski sekedar melihat gambarnya.
Peduli Lingkungan
Dalam satu kutipan di atas jelas dikemukakan bahwa ia membela seekor binatang, den dengan iba untuk tidak memperkerjakan binatang. Itu adalah salah satu bukti bahwa ia peduli terhadap binatang.
Peduli Sosial
Gadis Pantai juga sangat peduli terhadap lingkungannya serta lingkungan sosial yang ia tempati. Ia begitu sayang terhadap binatang-binatang kecil yang ia lihat dan kasihani. Contoh: pada kalimat “Binatang pun tahu berdagang. Rupa-rupanya dagang bukan pekerjaan luar biasa. Lihat! Dan ditunjuknya binatang-binatang itu.” Dalam kalimat ini terlihat bahwa Gadis Pantai sangat peduli terhadap binatang. Selain itu, ia juga peduli terhadap lingkungannya dan ini terlihat pada kalimat “Buat apa tasbih? Bendoro menyampaikan salam. Kalau kampung belum punya surau, Bendoro bersedia membiayai pendiriannya.” Dalam kalimat ini terlihat bahwa suami Gadis Pantai serta dirinya sangat peduli terhadap lingkungan sosialnya terutama peduli dalam hal nilai-nilai kebaikannya untuk dunia maupun akhirat kelak.
Tanggung Jawab

Kehidupan seorang Gadis Pantai penuh dengan tanggungjawab walaupun memang pilihan awalnya menjalani kehidupan pernikahannya bukan murni keinginan dirinya melainkan keinginan orangtuanya walaupun demikian Gadis Pantai tetap tabah menjalaninya dengan rasa penuh tanggungjawab karena dia ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Contoh: pada kalimat “Gadis Pantai mulai terbiasa pada kehidupan yang diperlengkapi alat-alat begitu banyak dan menggampangkan kerja.” Pada kalimat ini kehidupan Gadis Pantai telah berubah dengan disuguhkan peralatan-peralatan yang ada di rumahnya walaupun begitu ia tidak ingin diperalatan oleh alat-alat seperti itu ia ingin melakukan tugas sebagai istri seperti mana mestinya dengan tangannya sendiri.

Nilai-nilai dan pendidikan karakter novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer sebagai bahan pembelajaran sastra.  
Analisis kelayakan Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer sebagai bahan ajar merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Rahmanto, bahwa bahan ajar harus memperhatikan beberapa ketentuan, diantaranya ketentuan teoretis yang meliputi relevansi dengan kurikulum, keberadaan bahasa, psikologi, dan latar belakang budaya. Berikut ini merupakan hasil analisis menurut ketentuan-ketentuan tersebut.   




01 Mei, 2019

ESAI: Sajak “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono




Hatiku Selembar Daun 



















KRITIK ESAI PUISI
Sajak “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono








Daun, Kehidupan dan Tanda;
Hatiku Selembar Daun karya Sapardi Djoko Damono

oleh
Siti Halimah
hali.halimah45@gmail.com

...
Ada yang masih ingin ku pandang
Yang selama ini senantiasa luput
...


Betapakah dari kutipan sajak “Hatiku Selembar Daun” di atas menjadi tolak ukur pengarang dari isi sajak tersebut. Betapakah pengarang ingin sejenak menikmati yang senantiasa luput dari penglihatannya: kehidupan.

Hatiku Selembar daun
Sapardi Djoko Damono

Hatiku selembar daun
Melayang jatuh di atas rumput

Nanti dulu
Biarkan aku sejenak
Terbaring disini 

Ada yang masih ingin ku pandang
Yang selama ini senantiasa luput

Sesaat adalah abadi
Sebelum kau sapu
Tamanmu setiap pagi  

Sapardi yang akrab dipanggil, menjalani masa kecilnya bersamaan dengan tengah berkecamuknya perang kemerdekaan pada saat itu. Sebagai sosok yang tumbuh dalam situasi sulit seperti itu, pemandangan pesawat yang menjatuhkan bom dan membakar rumah-rumah besar merupakan hal yang biasa bagi Sapardi kecil.
Dalam bukunya, Sapardi mengisahkan bahwa awalnya kehidupan keluarga dari pihak ibunya terbilang berkecukupan, namun nasib manusia memang bak roda yang terus saja berputar, kadang di atas kadang di bawah, demikian halnya dengan keluarga Sapardi, saat Sapardi kecil hadir keadaan pun berubah, mereka harus menjalani hidup yang sulit. Masih segar dalam ingatan Sapardi, saking susahnya ia hanya makan bubur setiap pagi dan sore. Untuk menafkahi keluarganya, ibunda Sapardi, Sapariah, berjualan buku. Sementara ayahnya, Sadyoko, memilih hidup mengembara dari satu desa ke desa lain untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang kala itu kerap menangkapi kaum laki-laki. Sang ayah memang bukan seorang pejuang, tapi tentara Belanda kala itu berpikir tentara itu kebanyakan laki-laki.
“Mungkin karena suasana yang ‘aneh’ itu menyebabkan saya memiliki waktu luang yang banyak dan ‘kesendirian’ yang tidak bisa saya dapatkan di tengah kota,” kata Sapardi.

Walaupun memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah dan menikmati ‘kesendirian’, hobi keluyurannya tak lantas berhenti begitu saja. Namun, ‘keluyuran’-nya bukan dalam arti fisik di dunia nyata melainkan dunia batinnya sendiri: berimajinasi dan menrangkai kata.
Sambil menikmati masa ‘kesendirian’-nya itu, Sapardi mulai menulis puisi. “Saya belajar menulis pada bulan November 1957,” katanya. Sebulan setelah belajar menulis, karyanya berupa sajak dimuat di majalah kebudayaan yang terbit di Semarang. Tahun berikutnya, sajak-sajaknya mulai bermunculan di berbagai halaman penerbitan yang antara lain diasuh oleh HB. Jassin. Itulah kehidupan Sapardi Djoko Damono yang lahir pada tanggal 20 Maret 1940 di Solo.


             ...
Hatiku selembar daun
Melayang jatuh di atas rumput
 ....

Dalam dua larik ini adalah Pengibaratan antara aku lirik dengan selembar daun dan kemudian melayang-layang dan jatuh diatas rumput. Hal ini menunjukan betapakah hatinya seperti daun yang melayang di atas rumput yang mengibaratkan pearasaannya yang tidak karuan.  Atau ada juga yang mengibaratkan Sapardi yang mengibaratkan ada daun yang jatuh dan sembari merenung bahwa kematian itu dekat sekali, lebih dekat seperti daun yang jatuh ke tanah dengan tenang.

...
Nanti dulu
Biarkan aku sejenak
Terbaring disini 
...

Ungkapan untuk menikmati pembaringanya, hingga pada akhirnya ia ingin menikmati dulu kehidupan sebelum kematian itu datang, dan biarkan sejenak ia muhasabah diri dengan kehidupannya.
             ...
Ada yang masih ingin ku pandang
Yang selama ini senantiasa luput  
...

Mengapa aku lirik ini ingin menikmati dulu pembaringannya? Karena ini, karena ia menemukan suatu hal yang istimewa yang selama ini luput dari pengamantan/persaannya. Yang patut ditanyakan, apa sih yang luput dari ingatannya itu? Dan yang saya tafsirkan adalah kehidupan dan kematian.
...
Sesaat adalah abadi
...
Karena bagi ‘aku lirik’ kehidupan itu adalah sesaat adalah abadi, meskipun sesaat ini akan menjadi suatu hal yang abadi yang tak akan pernah terlupakan di kerenakan sebelumnya tidak pernah dirasakan

...
Sebelum kausapu
Tamanmu setiap pagi
... 

Pernyataan kepada suatu hal yang mampu menyapu taman”dunia lain” setiap pagi.  Ya, sebelum taman yang diibaratkan makam itu disapukan setiap pagi.

Atar Semi mejelaskan (Semi, 44:2013), bahwa yang menggunakan pendekatan semiotik ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari pendekatan objektif dan pendekatan struktural, yaitu pendekatan yang lebih menitik beratkan pada penelaahan sastra dengan mempelajari berbagai unsur didalamnya tanpa ada yang diangapa tidak penting.
Dalam hatiku selembar daun tentunya ada sebuah tanda yang menunjukan bahwa hal ini adalah yang menunjukan kehidupan, yang di antaranya adalah jatuh di rumput,  terbaring di sini, senantiasa luput,  sesaat adalah abadi, sapu taman setiap pagi.  Dari setiap tanda yang ada pada setiap larik tersebut tentunya telah menjadi tanda yang ingin menikmati kehidupan sebelum kehiudpan yang benar-benar fana ini berakhir, tanda tersebut menjadi benang merah antarbait untuk mengungkapakan apa yang hendak disampaikan Sapardi dalam puisinnya itu.
Maka dari setiap larik terdapat kesederhanaan penyair dalam menyampaikan risalah kehidupannya yang sejenak ini telah membius pembaca untuk masuk pada setiap larik yang disuguhkan.
Dalam esainya Soni Parid Maulana menyepakati sebuah definisi sederhana menegani puisi yaitu uangkapan perasaan, semacam nyanyian jiwa yang menyeruak dari kedalam kalbu sang penyair, apapun nyanyian itu dan tentunya pula hal ini beruursan dengan gaya bahasa. Maka berkaitan dengan ungkapan tersebut maka jelas pulalah betapa Metafor-metafor yang ditampilkan disetiap sajak “Hatiku Selembar Daun” karya Sapardi begitu lugu untuk dibaca. Hingga sapardi berhasil membaca pembaca dalam penafsiran yang berbeda. Begitu banyak penafisran yang saya dapatkan ketika pengkajian puisi ini. Ada yang berpendapat pula selain kehidupan, sapardi juga menggambarkan cinta sapardi yang tak pernah terungkap. Namun inilah kelihaian sapardi dalam mengobarak- abrik kata-kata sederhana ini menjadi metafor yang luar biasa dan menimbulkan pemaknaan yang berbeda pula. Namun hingga pada akhirnya dalam sajak sapardi ini tentu sangat jelas dengan simbol sesaat adalah abadi yang menunjukkan kapabilitas seorang manausia yang hidup didunia ini hanyalah sesaat. Namun jelaslah daripada hal ini bahwa yang terkandung dalam puisi sapardi adalah kehidupan.




















SUMBER BACAAN

Nurlailah, Laelasari. Ensiklopedia Tokoh Sastra Indonesia. Bandung: Nuansa  
       Aulia, 2007.

Semi, Atar. Kritik Sastra. Bandung: CV Angkasa, 2013.  

Maulana, Soni Farid. Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi. Bandung: Nuansa, 2012.  

Suroso, dkk. Kriktik Sastra (teori, metodologi dan aplikasi). Yogyakarta: Elmatera Publishing, 2008. 


30 April, 2019

Perjalanan dan Pulau Samosir


Oleh Siti Halimah 

Salah satu tujuan tempat berlibur paling terkenal di Pulau Sumatera adalah Danau Toba yang ditengahnya terdapat pulau Samosir. Tahukah Anda? ke dua objek wisata ini terletak di Provinsi Sumatera Utara, dengan Medan sebagai ibukotanya. Kota Medan merupakan kota terbesar di Pulau Sumatera. Dan Medan merupkan kota terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya.
Mayoritas Penduduk Kota Medan adalah suku Batak. Suku ini adalah salah satu suku yang cukup besar di Indonesia. Bahasa Batak “horas” cukup populer didengar sebagai salam saat mereka saling bertemu atapun menyapa orang lain.

Perjalan selama sepuluh hari di Medan merupakan perjalan terpanjang di pulau Sumatera bersama enam kawan seperjuangan. Kiranya banyak kegiatan yang kami lakukan di sana selain mengunjungi salah satu objek wisata di kota medan; bertemu dengan mahasiswa dari berbagai kampus dengan perbedaan RAS ada yang dari jawa, kalimantan, sumatra dan sulawesi, karena dalam kegiatan IMABSII ini baru tergabung dari sabang sampai Gorontalo.

Pada esensialnya kegiatan yang melibatkan seluruh Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia ini telah menghasilan beberapa Rapat Kerja Nasional. Salah satunya rapat kerja yag berkerja sama dengan badan bahasa yaitu menasinalisasikan bahasa Indonesia dan kuat menembus pasar global MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015. Tentunya berbeda ragam bahasa dan budaya tidak membedakan kita untuk memperjuangkan bahasa indonesia di kancah yang lebih luas. 
Perlu kita kaji di kampus kita bagaimana mempertahankan bahasa indonesia ini menjadi suatu objek sentral dalam KMB dan tentunya menjadi suatu penghela menuju pintu indonesia yang nasional.  Dalam rapat kerja nasional IMABSII yang di laksanakan pada tanggal 22-24 November ini juga menghasilkan program kerja yang menjadi perangai untuk memperhatikan keadaan sekitar yaitu Advokasi dan Kajian terbuka yang mana dalam program ini setiap dari kita HMJ atau pun anggota didalamnya mesti cepat tanggap dengan permasalahn yang ada d sekitar.
Dalam pertemuan itu pula banyak cerita tentang permasalahn yang ada di berbagai daerah dan pulau. Ada salah satu permasalah yang terjadi di perbatasan dan itu menjadi tugas kita untuk menyelamatkan indonesia di wilayah perbatasan itu. Kurangnya perhatian pemeritah mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya naturalisasi budaya, bahasa bahakan kehidupan yang lebih condong ke negara lain dan hal itu terjadi di atara perbatasan malaysia dan kalimantan.  
Barangkali masalah ini adalah satu dari ribuan yang baru di ketahui. Apapun yang menjadi penyebab dan siapapun dimaapun itu adalah tugas kita sebagai penghuni yang satu tanah air.

Beranjak pada pertemuan simposium yang dilaksanakan di GOR kabupaten asahan yang mana acara simposium itu di hadiri oleh dinas pendidikan, para guru, siswa dari menegah pertana samapai atas serta mahasiswa. Dalam simposium ini juga mengahasilaan satu keimpulan yang patut kita kaji sebaga tugas kita sebagai bangsa indonesia dan pelajar yaitu mempertahnakan bahasa indonesia ini secara uuh agar tidak terjadinya penympangan bahsa yang terlalu di lebih-lebihkan. Terlebih di jaman yang semakin hari semakin berkembang, dan bahasa yang semaki hari semakin melebih juga akibat dari keberadaan.
Danau Toba 



*cerita yang baru terungkap beberapa tahun yang lalu.

LITERASI ANAK LUAR BIASA

oleh Siti Halimah
LITERASI ANAK LUAR BIASA
"Keterbatasan bukan hambatan dalam berliterasi" Itu adalah judul esai yang ditulis oleh Titin Suistiawati, dalam buku  merayakan Literasi Masa Depan

Literasi adalahsarana untuk membuaka segala pintu yang ingin kita buka, dengan berliterasi segala akan ditemukan, dengan mudah dan asyik tanpa batas.

Setiap anak dilahirkan samadi mata Tuhan. Dengan kemampuan yang sama, namun bagaimana manusia yang pintar mengendalikan hal tersebut,tinggal dipilih. seperti halnya pengalaman yang Saya dapatkan ketika Saya di undang untuk menjadi juri pada Seleksi Lomba Literasi Siswa Berkebutuhan Khusus  Tingkat Kabupaten Cianjur  bertempat di SLB Cahaya Geilang Pertiwi (18/04/2019) ,  Pengalaman baru bagi saya untuk bisa masuk dalam dunia yang berbeda untuk menembus keterbatasan. 

Menulsi cerpen, membaca puisi, menulis puisi, membaca dongeng, mebuat resensi, membuat komik: adalah bidang yang dilombakan. mereka bisa menyampaikan dengan segala keterbatasan dan hasil yang liar.

Luar biasa. Meraka adalah anak luar biasa yang diciptakan Tuhan. berangkat dari hal tersebut Saya percaya bahwa sastra bisa dinikmati oleh siapa aja--dalam keadaan apapun. 




Seleksi Lomba Literasi Siswa Berkebutuhan Khusus  Tingkat Kabupaten Cianjur  






29 April, 2019

Dee dan Supernova; Proses


Oleh: Siti Halimah


“... Bahwa kebenaran yang utuh baru kamu dapatkan setelah melihat kedua sisi cermin kehidupan. Tidak Cuma sebelah.” (Supernova#1 “Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, hal 10”).

Mengawali karirnya sebagai backing vocal untuk beberapa penyanyi seperti Iwa K, Java Jive dan Chrisye, yang kita tahu Dewi Lestari Simangunsong kemudian group vocal yaitu Rita, Sita dan Dewi atau yang disebut RSD dengan album perdananya, Antara Kita pada tahun 1995 dan Bertiga pada tahun 1997. Namun siapa sangka sebelum ia terjun ke dunia tarik suara Dewi Lestari yang akrab di panggil Dee, dulunya merupakan penulis  buletin  sekolah bahkan tulisannya pernah dimuat di beberapa media, salah satu cerpen yang pernah dimuat diterbitan Bandung adalah cerpen yang berjudul “Sikat Gigi”. Esensialnya, Sebelum supernova keluar tak banyak yang tahu bahwa Dee telah sering menulis dan ia dikenal sebagai penyanyi.  
Perempuan kelahiran 20 Januari 1976 di Bandung  adalah putri dari Yohan Simangunsong (Ayah) dan ibunya Turlan boru Siagian (alm). Dee adalah anak keempat dari lima bersaudara dan salah satu adiknya adalah vokalis Mocca, Arina Ephipania. Dee menghabiskan masa SMA-nya di SMA Negeri 2 Bandung dan Ia merupakan lulusan Universitas Parahyangan dengan jurusan Hubungan Internasional. Sekarang, Dee telah menikah dengan Reza Gunawan dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Keenan Avalokita Kirana , dan keenan meruapakan buah hat dari pernikahan sebelumnya dengan penyanyi R&B, Marcell Siahaan.
Dengan membaca Karya DEE ini kita diajak  keliling untuk memahami fiksi ilmiah terutama dalam Supernova yang diantaranya Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001), Supernova 2: Akar (2002), Supernova 3: Petir (2004), Supernova 4: Partikel (2012).
Penulis yang berlatar belakang penyanyi dan artis ini mampu menghipnotis perspektif para pembaca. Dalam Supernova 1: “Antara Ferre, Rana-Diva, dan 2 Penulis Fiktif” 2 penulis fiktif itu adalah Dimas dan Reuben. 2 Tokoh pertama yang hadir. Dua-duanya homo. Saling mencintai. Berlatar belakang unik. Dan sedang membuat karya mereka berdua dengan pengetahuan masing-masing. Dimas adalah karakter yang mempunyai jiwa seniman dan satunya si Reuben adalah seorang ilmuan.  Banyak orang yang terhibur  dengan karya Dee, dengan plot yang ia persembahkan dalam novel Supernova. Terutama novel yang sensasional adalah Kesatria, Peutri dan bintang jatuh yang rilis pada tahun 2011, novel ini banyak menggunakan istilah sains dan cinta, dan yang lebih mengejutkan lagi dalam kurun waktu 35 hari saja novel ini sudah terjual sekitar 75.000 ekslempar.
Setelah meraih kesuksesan dengan Supernova Satu, Dee kembali meluncurkan Supernova Dua dengan judul Akar pada 16 Oktober 2002. Meskipun lambang yang dipakai sebagai cover novel dianggap melecehkan umat Hindu dan menjadi kontroversi, jalan tengah pun berhasil diambil dengan tidak kembali menggunakan lambang tersebut pada cetakan kedua dan seterusnya. Pada Januari 2005, novel ketiga Dee Supernova Petir rilis dan Rectoverso pada Agustus 2008. Hingga akhirnya pada Agustus 2009, Perahu Kertas rampung dibuat dan berlabuh di. Dee lalu merilis novel lanjutan serial supernova yang berjudul Partikel pada tahun 2012.
Kemudian dalam kata pengantar Dee di Supernova 2: Akar, pada seri episode Supernova yang kedua ini dia  menghadirkan empat tokoh, yaitu: Bodhi, Elektra, Zarah dan Alfa. Tiga tokoh yang pertama sudah muncul, Bodhi di episode Akar, Elektra Wijaya di episode Petir, dan Zarah Amala di Partikel Menurut rumor yang beredar, dua episode Supernova berikutnya akan berjudul Gelombang dan Intelegensi Embun Pagi. Sebaga penikmat karya Dee tentunya kita menuggu setia untuk terus melahapnya.              
https://s.kaskus.id/images/2016/02/06/1712458_20160206110705.jpeg
Dibalik yang kita tahu Ia memiliki sisi kehidupan yang belum kita ketahui sebelumnya. Penyanyi sekaligus penulis ini telah mengegerkan hati untuk tetap menjalani hobi tanpa harus orang lain tahu. Betapa semua membutuhkan proses. Pun ketika Dee sampai sekarang ini yang dikenal sebagai penulis pastinya memerlukan sebuah proses dan tentunya proses yang tekun. Berawal dari menulis buletin di sekolah, kemudian di media-media lokal terdekat hingga kemudian Dee sebagai salah satu novelis Indonesia, dan Supernova pun besanding dengan para sastrawan yang telah lebih dulu daripadanya, seperti Goenawan Muhammad, Danarto dengan karyanya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember. 





SEKALI BERJUMPA